RSS

Jumat, 19 April 2013

MAROS, I'm Falling in Love !!!


                 Rasa lokal, sejatinya adalah rasa khas dari hal unik yang merupakan potensi  suatu wilayah. Entah itu potensi alam, maupun potensi yang terbentuk dari kultur dan output  Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Tiap daerah tentunya memiliki Local Flavour tersendiri. Dan kita, sebagai bagian dari mata rantai individu-individu suatu daerah, harus menunjukkan kebanggaan dan rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi terhadap daerah masing-masing, sebagai bentuk rasa sukacita akan tanah tempat kita berpijak sekarang.
             Dua tahun yang lalu, sejak saya terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kota ini telah menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidup saya. Meski, tak satu pun sanak keluarga yang saya miliki di kota ini. Namun seiring waktu, potret kota bersahaja dan keharmonisasian masyarakatnya yang berasal dari Suku Bugis dan Makassar, membuat saya jatuh hati dengan kota yang secara administratif berstatus kabupaten ini. Daerah dengan julukan Butta Salewangang ini merupakan poros jalan propinsi. Sebagai penopang sendi-sendi perekonomian Sulawesi Selatan (Sul-Sel), karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Propinsi. Dan aset sumber daya alam yang melimpah  di daerah ini,  sangat berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sul-Sel. Diantaranya dari sektor pariwisata, pertambangan/penggalian, industri, perdagangan,  dan pertanian.
                Menelisik  makna dari julukan Butta Salewangang, yang berarti tanah yang makmur, aman dan sejahtera. Daerah ini memang memiliki tanah yang subur, potensi sumber daya alam yang melimpah ruah, berupa tanah pertanian  yang luas dan subur   (47.210, 98 Ha, BPS Maros ), perkebunan, perikanan, dan sektor pariwisata yang terkenal hampir seantero negeri ini.

Air Terjun dengan Eksotisme Kupu-kupu

   Siapa yang tidak mengenal Air terjun Bantimurung? Salah satu objek wisata unggulan Propinsi Sul-Sel yang terletak di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Air terjun dengan lebar 20 meter dan tinggi 15 meter ini sebenarnya sama saja dengan air terjun lainnya di negeri ini. Namun, yang menarik adalah kesejukan curahan air terjun yang menimpa gundukan level batu-batuan, di bingkai oleh  spesies kupu-kupu langka nan cantik yang beragam jenisnya. Serta dikelilingi oleh perbukitan batu karang kapur dengan kemiringan yang agak curam. Memperindah kesan alami dan nafas segar di  wilayah taman nasional ini. Meskipun, kecantikan kupu-kupu ini lebih afdol jika dinikmati pada pagi hari.
Surga di Air Terjun Bantimurung(Sumber gambar:google)

Kupu-kupu Bantimurung yang diawetkan

Pengunjung juga bisa menjajaki puluhan anak tangga ke arah atas air terjun dengan bisikan angin-angin  segar, dan menyaksikan langsung gua-gua  batu yang menempel di kawasan karst ini. Ada juga kolam renang dan media out bond, yang telah difasilitasi oleh dinas terkait untuk menambah kesemarakan dan kepuasan pengunjung menikmati wisata alam ini.  
            
           Di sepanjang jalan masuk dan keluar wisata alam ini, berjejer pula pedagang-pedagang lokal yang menjual ole-ole khas tempat wisata ini, yakni beragam jenis  motif kupu-kupu yang telah
diawetkan  guna menjadi barang pajangan unik.
           Sementara sarana hotel, tengah dalam tahap pembangunan untuk melengkapi wisma yang ada. Yah, masih banyak memang perbaikan-perbaikan dan tambahan sarana  yang harus  digalakkan untuk kesempurnaan wisata alam ini. Dan saya sangat sedih, ketika beberapa minggu terakhir ini beredar kencang issue di media-media sosial mengenai ular berkepala tujuh di taman wisata ini. Data statistik menunjukkan pemberitaan ini sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah wisatawan. Padahal, tidak ada bukti otentik terkait keberadaan ular itu. Pada akhirnya, masyarakatlah yang menilai jika kabar itu hanya selentingan hoax (pemberitaaan palsu).

Keelokan Bukit Karst Rammang-rammang
   Menengok ke utara Kabupaten Maros, bisa kita jumpai ratusan karst (batuan kapur/gamping), yang lebih dikenal dengan nama Kawasan Karst Rammang-rammang, karena berada di Dusun Rammang-rammang,  Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa. Saya malah mengetahui pertama kali keindahan wisata karst ini di tayangan jalan-jalan salah satu televisi swasta. Dan takjub akan keindahan gugusan karst-karst yang menjulang tinggi,  diperindah dengan kejernihan air sungai yang mengalir di sela-sela gugusan tersebut. Pemerintah memang belum  menyentuh satu kecantikan alam yang tersembunyi ini. Karena aksesnya lumayan sulit. Keesokan harinya, saya dan beberapa teman berusaha mendatangi tempat yang nyaris membuat mata ini tak sabar menangkap mahakarya indah itu.
Memasuki Wilayah Karst Perkampungan Rammang-rammang (Gambar: Dok Pribadi)
Salah Satu Gugusan Karst Rammang-rammang (Gambar: Dok Pribadi)
     Namun sayang, kami hanya sampai di bagian bawah saja, karena untuk mencapai puncak Rammang-rammang, diperlukan persiapan khusus mendaki gunung dan dan menjejal bukit menjulang. Serta menaiki perahu kecil,yang nyaris seluruh sisi perahu kelihatan terombang-ambing di permukaan air sungai. Hal ini, saya ketahui oleh teman yang pernah berhasil sampai ke sana. Alhasil, saya dan teman  hanya sampai di wilayah dasar  Rammang-rammang saja. Itupun sempat membuat mata saya takjub dengan produk alam yang sangat mempesona ini. 
Wisata Kuliner 

             Tak lengkap rasanya, membicarakan suatu daerah tanpa mengetahui kuliner khasnya. Di Kabupaten Maros, tidak ada makanan khas yang menjadi ciri atau ikon daerah ini. Seperi Gudeg di Jogja, atau Coto di Makassar. Namun, ada kue khas yang telah melekat dengan nama daerah ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Anda pernah  mendengar ole-ole  roma dari Maros?Yah, kue ini bernama Roti Maros, disingkat roma. Bentuknya unik, seperti kasur yang bergempal-gempal. Ukurannya beragam, tapi yang biasanya berukuran 20x20 cm. Rasa rotinya setengah manis, sangat lembut dan gampang disobek. Isi Roti Maros ini berupa selai kaya yang manisnya sangat proporsional dan resepnya telah diwariskan turun-temurun. Pedagang roma ini nyaris memenuhi  pinggiran-pinggiran Kota Maros ditambah pedagang buah yang jumlahnya tak sedikit. Terkadang  membuat kemacetan karena bis-bis penumpang  dan mobil-mobil ke daerah, banyak yang  menyempatkan singgah membeli ole-ole tradisional ini.
Roti Maros (Gambar : google)
              Di antara para penyaji roma ini, ada satu toko kue juga yang menjadi bulan-bulanan para pelancong ketika lewat di Jalan Poros Maros. Yakni Toko 189. Yang menjadi andalannya bukanlah roma. Melainkan jajanan khas Sul-Sel, yakni  jalangkote. Jalangkote ini serupa dengan kue yang ada di Jakarta, yaitu Pastel. Namun, kulit dan isi jalangkote  lebih besar dan gurih dari pastel. Jalangkote 189 ini memiliki cita rasa yang lain dengan jalangkote yang ada. Selain adonan intinya, yakni  terigu, telur, santan, mentega, dan garam. Pemilik juga menambahkan keju sehingga menambah kesan renyah, lezat, dan gurih. Remah-remahnya sangat disukai anak-anak. Dan isi dari kulitnya berasal dari potongan-potongan kecil wortel, kentang, labu putih, bihun, irisan telur rebus, dan daging cincang. Dan sebagai pelengkap adalah sambal dengan rasa pedis manis yang sungguh nikmat. Pelancong biasa melengkapinya dengan air tahu untuk menikmati jajanan ini.
             Menjelang senja hingga dini hari, ada kawasan menarik di Kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius ini. Tepatnya di seberang jalan Mesjid Al-Markas, mesjid terbesar di Maros. Pemerintah membuat tempat lokalisasi untuk berwisata kuliner. Dinamakan Pantai Tak Berombak (PTB), karena di tengah-tengah kawasan ini terdapat danau buatan yang lumayan besar,menambah daya tarik para pengunjung. Sesekali, ada yang memanfaatkannya untuk memancing ikan. Saat malam minggu, biasa pula disemarakkan oleh kreatifitas anak-anak band yang manggung di pusat kuliner Maros ini. Kulinernya pun beragam, mulai dari makanan berat  hingga kue-kue dan minuman tradisional seperti putu dan sarabba. 
                Dua tahun rasanya waktu yang masih sedikit, untuk mengenali sudut-sudut keramaian dan  potensi daerah ini. Meskipun tidak ada mall, tempat karaoke keluarga, bioskop, toko buku besar, restoran cepat saji,  yang menjadi ikon kota-kota besar. Tapi lebih dari itu, saya sudah falling in love dengan daerah ini. Ditambah keramahan dan kebersahajaan orang-orang di daerah ini. Membuat saya ‘betah’ dan merasa  Maros ini adalah rumah saya, kampung saya, dan pengabdian hidup saya. Meski tak satu pun sanak kelurga disini. Seperti itulah sense of belonging saya  terhadap Kabupaten maros.

Postingan ini disertakan dalam #8MingguNgeblog Anging Mammiri






               















6 komentar:

EkSpReSi TiaDa BaTaS mengatakan...

sepertinya sudah lama sekali tidak berkunjung ke bantimurung....jadi pengen :)

KATALIS HATI mengatakan...

Maros memang tak ada matinya.... *_*

Indah PM mengatakan...

Bantingmurung, kebanggaan orang sulsel :)

Mugniar Marakarma mengatakan...

Belum pernah ke Rammang2, kalo lihat fotonya .. eksotis ya? Cantik. Sudah lama ndak ke Bantimurung :)

Diah Kusumastuti mengatakan...

jadi pengen liat aneka kupu-kupu di sana.. kirimin dong mbak... hehehhe... *pengen dijitak :D

Shaela Mayasari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar