RSS

Senin, 06 November 2017

Membaca Indeks Demokrasi SulSel



 (Terbit di Harian Fajar, 4 November 2017)

            Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sul-sel merilis, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Sul-sel tahun 2016 sebesar 68,53,  dalam skala 0 -100. Angka ini naik 0,63 poin dibandingkan tahun 2015. Di bawah IDI nasional sebesar 72,82. Berarti, capaian kinerja demokrasi Sul-sel masih berada pada kategori “sedang”. Sejak dilaksanakan pertama kali di tahun 2009, angka IDI Sul-sel ini merupakan tertinggi ketiga selama kurun waktu delapan tahun.
            Pasca reformasi, proses demokrasi di Indonesia diharapkan semakin matang.  Pengalaman 19 tahun mempraktikkan demokrasi adalah modal besar dalam membangun Indonesia. Pengalaman Pileg, Pilpres, dan Pilkada, seyogyanya telah membuat Indonesia dewasa dalam berdemokrasi.

Rabu, 01 November 2017

Menaruh Asa di Pundak Pemuda



(Tulisan ini untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017)



Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”(Soekarno).

            Kalimat di atas ialah ungkapan presiden pertama Indonesia, Soekarno yang menggambarkan begitu dahsyatnya kekuatan pemuda untuk mengguncangkan dunia. Seribu orang tua bisa bermimpi, sementara satu pemuda bisa mengubah dunia.Mengapa demikian?
            Di dada pemuda, sebuah perubahan bisa terjadi. Sebab, daya imajinasi, intuisi, kreatifitas, dan inovasi senantiasa melekat pada jiwa pemuda. Semangat nasionalisme juga mudah terbakar di dada pemuda. Pemuda identik dengan keberanian dan idenya yang gila. Didukung kemampuan fisik yang kuat, diharapkan  mampu mengeksekusi segala ide positif yang tertanam di benaknya itu. Adapun Undang-Undang Kepemudaan nomor 40 tahun 2009 menegaskan tentang batasan usia pemuda Indonesia yakni 15 sampai dengan 30 tahun.
            Hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS)  menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2017 sebanyak 261.890,9 ribu orang. Jumlah penduduk yang masuk dalam kategori pemuda ialah 64 938,7 ribu orang. Dari hasil piramida kelompok umur, jumlah ini termasuk tipe expansive dengan sebagian besar penduduk berada pada kelompok umur muda.

Senin, 23 Oktober 2017

Statistik Untuk Knowledge, Statistik Untuk Bangsa





Terbit di Harian Fajar, 5 Oktober 2017
 (Shaela Mayasari, Penulis adalah Koordinator Statistik Kecamatan Mandai, BPS Kab. Maros)
Masyarakat  Indonesia dewasa ini, khususnya generasi millenial tengah menikmati  euforia kemajuan IT (Information Technology). Larut dalam hiruk-pikuk sosial media. Namun, abai akan IS (Information Science). Salah satu  ujung tombak  IS ialah data statistik. Memperolehnya, melalui proses ilmiah mulai pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian.  BPS sebagai lembaga resmi penyedia data statistik pemerintah, punya andil besar dalam menyajikan fakta melalui data yang dihasilkan. Jangan sampai, kita buta ilmu dalam megahnya sebuah perpustakaan.
Hasil listing Sensus Ekonomi 2016 (SE16) menunjukkan ada 26,71 juta usaha/perusahaan non pertanian yang dikelompokkan dalam 15 kategori lapangan usaha sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2015. Jumlah itu meningkat 17,51 % dibandingkan dengan hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE06) 10 tahun lalu. Dan Usaha Mikro Kecil (UMK) mendominasi usaha di negeri ini sebanyak 98,33 %.

Selasa, 12 September 2017

17 Agustus dan Orang yang Dibakar Hidup-Hidup

(Tulisan ini memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia  ke-72)

Awal agustus kita dihebohkan dengan berita pilu. Berita Muhammad Al Zahra alias Joya (25), yang tewas mengenaskan di Babelan, Kabupaten Bekasi. Joya dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang setelah dituduh mencuri amplifier sebuah mushalah. Indonesia yang merupakan negara hukum, Indonesia yang bulan ini merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72, dan selama itu pula menyatakan diri sebagai bangsa yang berdaulat, seorang anak bangsanya meregang nyawa di tangan para hakim jalanan. Disaksikan ratusan pasang mata yang mematung.  
Akhir-akhir ini Bangsa Indonesia seperti dihadapkan pada krisis moral. Terlalu jauh membahas masalah krisis garam, belenggu utang, calon presiden mendatang beserta peta kekuatannya. Justru hal mendasar, yakni toleransi  dan empati atas dasar kemanusiaan  semakin waktu makin memudar. Melihat viral video seorang bapak muda beranak satu, yang diduga pelaku pencurian amplifer, tanpa memperhatikan asas praduga tidak bersalah, dihajar habis-habis di sekujur tubuhnya oleh sekelompok orang. Melihatnya, hati terasa perih tersayat-sayat. Jika mungkin ada di Tempat Kejadian Perkara (TKP), ingin sekali menolong satu nyawa yang menjadi tumpuan hidup keluarga kecilnya itu. Tak cukup dengan melihat korban tergolek tak berdaya, sekelompok orang tersebut kemudian saling terprovokasi untuk menyirami korban yang telah berdarah-darah dengan bensin, memercikkan api, hingga sekujur tubuh yang kesakitan itu  terpanggang tanpa ampun.  

Kue Ramadhan itu Bernama PIA



(Tulisan ini diikutkan dalam lomba Menulis Kompetisi Islami Ramadhan 1467 H BPS RI)
Matanya sayu, kantung matanya menggantung, bulir-bulir keringatnya menetes tak tahan dengan teriknya matahari. Dari  kerongkongannya yang gersang, keluar pertanyaan-pertanyaan terkait ongkos-ongkos yang dikeluarkan petani dalam usaha palawijanya. Probingnya sangat dalam. Menjadi kesyukuran karena petani respondennya kali ini cukup pendidikan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mudah saja dimengerti dan dijawabnya. Karena jika tidak, suara harus terkuras banyak untuk mengulang dan mencari padanan kata yang tepat, atau dialek lokal yang mudah dimengerti petani. Tangannya pun terus bergerak, menyimpan hasil tangkapan jawaban yang diincarnya. Syiar Ramadhan berkumandang. Dari speaker masjid tak jauh dari tempatnya mencacah, terlantun merdu Surah Al-Bakarah Ayat 183.
ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa.”

Kamis, 16 Februari 2017

Kalah Bermartabat



(Tulisan ini terbit di Harian Fajar , Jumat, 17/02 2017)

“Seperti halnya kompetisi-kompetisi lainnya, pasti ada menang dan ada yang kalah. Ada suka ada duka, Itulah realitas kehidupan.”

Demikian salah satu kutipan Agus  Harimurti Yudhoyono (AHY), dalam konferensi pers beberapa jam pasca pemilihan Gubernur­­­­­­­­_Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rabu (15/02).  Kita menyaksikan sejarah baru dalam dunia perpolitikan Indonesia. Tayangan yang sangat mencerahkan, inspiratif, dan bermartabat. Jika biasanya sehabis Pilkada digelar, hasil quick count akan disikapi beragam oleh para calon Kepala Daerah. Ada yang jumawa, serasa di atas angin dengan perolehan suaranya. Ada yang getar-getir menunggu hasil resmi dari KPU, sebagai lembaga resmi negara pelaksana pesta demokrasi. Ada yang siap dengan bukti-bukti saktinya, memasang kuda-kuda atas kekalahannya. Money politics, black campain, dan rupa-rupa alasan untuk mengganjal kemenangan lawan.

Merawat Kritikan, Memupuk Kinerja



(Tulisan ini dikirim ke Redaksi Varia Statistik, 11 Januari 2017)
 
Sebagai insan BPS, hati siapa yang tidak terkoyak melihat tayangan salah satu televisi  nasional  baru-baru ini  bertajuk  “ Utak-Atik Data Statistik”. Sejak awal, narasi yang dibacakan sangat tendensius dan menyudutkan BPS. Data BPS diduga rentan rekayasa, sarat dengan kepentingan  pihak tertentu. Yang lebih menggeramkan, kita dituding merekayasa data    untuk  menambah pundi-pundi segelintir oknum penguasa.
Tayangan ini sontak melahirkan rasa kesal, dada bergemuruh, dan mulut yang seakan ingin mengklarifikasi  semua tuduhan negatif tersebut.  Bermula dari temuan Ombudsman Republik Indonesia Indonesia, yang mengkritisi data produksi beras nasional yang  semakin naik dari tahun ke tahun. Sementara dari sisi kesejahteraan, kehidupan petani kita begitu-begitu saja. Surplus beras yang dielu-elukan Menteri Pertanian, juga kontrakdiksi dengan apa yang terjadi di masyarakat. Di mana harga beras di pasar jauh lebih mahal dibanding harga di tingkat penggilingan padi. Ombudsman juga menilai ada yang ganjil, melihat data produksi beras yang terus meroket, tetapi di sisi lain  lahan sawah justru semakin tergerus.