RSS

Sabtu, 01 Juni 2013

Harmoni dalam Keluarga Kecil


            Saya tak hanya belajar. Tapi juga merasa nyaman, damai, dan  benar-benar ‘hidup’ ketika di sana. Mungkin itulah barangkali komunitas ideal, menurut konsep hati saya.
            Menjadi mahasiswi tentunya menjadi dambaan anak seumuran saya kala itu. Tahun 2005 awal saya menginjakkan kaki di universitas yang konon terbesar di kawasan timur Indonesia.  Fakultas Pertanian menjadi muara ilmu saya. Spesifik di Jurusan Agribisnis. Jurusan yang dikenal dengan julukan ‘anak tani’, dikarenakan keseringannya melakukan praktek lapang di pedesaan dan di pemukiman petani. Perkuliahan yang membosankan membuat saya perlahan-lahan mencari aktifitas lain. Tahun kedua, jiwa organisatoris saya mulai terasah. Menjadi pengurus di Badan Pengurus Harian (BPH)  Himpunan  memberi makna tersendiri dalam cerita mahasiswa saya.
Bagaimana bekerjasama dalam sebuh struktur. Struktur yang orang-orang di dalamnya tidak hanya memiliki visi dan misi yang sama, tapi memiliki ego dan jiwa muda yang masih meletup-letup. Tapi fakta inilah yang kemudian mengajarkan kita mengelola konflik dengan bijak, tetap kokoh memperjuangkan aspirasi warga. Dan patuh pada AD/ART sebagai landasan organisasi kita. Di luar jam kuliah, kami pun melaksanakan ragam program kerja yang terkait dengan bidang ilmu. Rutin melakukan diskusi-diskusi terbuka  guna pemekaran ilmu pengetahuan. Hingga terjun langsung ke masyarakat sebagai bentuk pengabdian akan tanggung jawab sosial kita. Karena mahasiswa yang katanya agent of change untuk bibit baru generasi pemimpin-pemimpin selanjutnya. Kebosanan saya di ruang perkuliahan sedikit terobati dengan keaktifan saya di himpunan ini.
Saya sedikit beruntung dibanding teman mahasiswa lain. Yang hanya mengecap buah-buah ilmu itu di ruang perkuliahan saja. Padahal, kampus ini begitu besar untuk mengejar sisi-sisi ilmu lain. Saya suka mengikuti kegiatan seminar maupun diskusi-diskusi umum yang tidak hanya terkait spesifikasi ilmu saya. Namun juga merambah ke bidang pengetahuan lain. Kan tidak ada salahnya juga, memperkaya khasanah ilmu kita. Apalagi jika acara tersebut  dibuka gratis untuk mahasiswa. Hal yang sangat saya incar kala itu. Hingga menjadi peserta Diklat Dasar Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Penerbit Kampus (PK) Identitas kemudian membuat kegemaran menulis saya terasah. Dan di sinilah, darah kekeluargaan saya dengan komunitas ini menyatu, hingga detik ini.
Saya akhirnya tergabung dalam komunitas baru yang merupakan bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unhas. Yakni Penerbit Koran (PK) Identitas. Koran bacaan civitas akademika Unhas yang dibagikan secara gratis, dan terbit dua kali sebulan. Tempat ini rupanya jauh menantang dibanding aktifitas saya di himpunan jurusan. Kita dituntut menjadi reporter kampus. Belajar menemukan masalah atau penyimpangan yang tersembunyi, melakukan investigasi dan kroscek di lapangan, mengkritik kebijakan-kebijakan birokrat kampus yang tak memihak pada mahasiswa. Kemudian menulisnya dalam pemberitaan yang berimbang. Saya tertantang karena mekanisme kerjanya jelas dan keras. Kita benar-benar dituntut profesional dan bermental baja. Karena deadline adalah harga mati di tempat ini. Kematangan berfikir saya perlahan-lahan terasah di komunitas ini.
Menjadi Ketua Panitia Diklat Dasar Jurnalistik Tahun 2009
Berhubung outputnya adalah koran yang dibagikan ribuan eksemplar kepada mahasiswa dan pegawai Unhas.  Dan tanggal terbitnya jelas, awal dan akhir bulan. Otomatis kita dituntut untuk cerdik-cerdik menguak fakta di lapangan. Dan menelusurinya lewat narasumber-narasumber yang kompeten. Maka, selama menjadi bagian dari redaksi Pk Identitas, saya pun memiliki kesempatan untuk bertatap muka dan mewawancarai petinggi-petingi kampus. Termasuk rektor dan jajarannya, dekan, hingga staf-staf maupun mahasiswa sendiri. Bahkan kesempatan wawancara pun bisa sampai pada politikus, maupun akademisi dan pejabat nasional yang mampir ke Unhas. Bagaimana jika saya hanya berstatus mahasiswa saja? Keberanian dan sikap kritis saya tentunya akan tenggelam begitu saja. Komunitas ini memberi tantangan dan pengaruh positif  yang luar biasa. Pergaulan saya pun mulai meluas dan makin dinamis. Berkumpul dengan orang-orang yang ‘kutu buku’, yang doyan menulis, yang doyan berdiskusi dan berdebat, yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,  membuat saya benar-benar berada dalam lingkaran baru. Beda dari lingkaran sebelum-sebelumnya.
Seorang Kru yang Tengah Mewawancari Mendiknas
Kewajiban sebagai mahasiswa dan pencari berita membikin hari-hari saya makin berdinamika. Jika sebagian teman, sehabis kuliah langsung cabut entah ke mana. Saya harus menyelesaikan tanggung jawab lain. Tak hanya sebagai sekretaris pengawas di himpunan jurusan, tapi yang utama dan sangat menyita waktu adalah menyelesaikan naskah berita untuk mengisi rubrik-rubrik koran. Belum lagi untuk rapat-rapat redaksi tiap dua kali seminggu. Kami biasa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hingga larut malam, hanya untuk menyamakan pendapat dan mencari angle yang  tepat untuk masalah yang ingin dijadikan bahan pemberitaan. Bisa Anda bayangkan, bagaimana repotnya kami kala itu. Tugas kuliah dan tugas redaksi harus berjalan beriringan. Inilah yang tidak dimiliki oleh mahasiswa lain.
Selama dua tahun lebih saya menjadi pengurus aktif di keredaksian Identitas, sebelum akhirnya saya wisuda awal 2010. Namun, di samping keseriusan kami menjalankan tugas keredaksian di sana. Ada hal yang paling esensi telah mendarah daging, yang membuat gerak kaki kami akan ke sana tiap kali bertandang ke kampus merah. Yakni rasa kekeluargaan. Identitas, yang oleh kami disebut keluarga kecil, adalah sebuah organisasi yang berbeda dengan organisasi lain. Tak memiliki AD/ART, tapi memiliki manajemen keredaksional yang merupakan harga mati dalam menjalankan tugas. Pun terikat dengan birokrasi kampus, karena biaya percetakan maupun honor-honor tulisan kami difasilitasi pihak rektorat. Meski pemberitaan kami tak diintervensi sama sekali oleh mereka. 
Perayaan Dies Natalis Pk Identitas ke 35
Rasa kekeluargaan ini telah mengakar, dan terus dipupuk tiap harinya. Kami mengalami gejolak konflik, dan  perbedaan pendapat adalah makanan hari-hari. Tapi di luar dari keredaksian itu, kami adalah satu rantai keluarga yang utuh. Tak bercerai-berai. Duka salah satu kru maupun alumni, adalah duka kita bersama. Hal ini telah diwariskan oleh pendahulu-pendahulu kami sebelumnya.
Ketika ada salah satu anggota keluarga teman yang mengalami musibah, kami pun berbondong-bondong menyewa mikrolet datang menjenguk. Berempati. Begitupun, ketika ada yang lagi bersukacita dan mengadakan syukuran, kami merapat kembali ke sana. Contoh yang paling menegangkan, ketika seorang kepala laboratorium yang datang dengan riak emosional, mencaci maki, menghujat pemberitaan kami yang menyudutkan namanya, meskipun yang diberitakan benarlah adanya. Kami menghadapinya bersama-sama. Seperti itulah resiko dari kehadiran media, sekalipun hanya berskala kampus. Dan kami sebagai bagian di dalamnya tentunya memiliki kode etik dan wawasan yang mumpuni sebagai modal kuat bertahan di sana.

Menjadi Salah Satu Wakil Peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut di Medan, 2010

Futsal, Sebagai Salah Satu Media Penyambung Silaturahmi
Teringat bulan ramadhan kala itu, saya bahkan beberapa kali menginap di sekretariat kami dikarenakan deadline yang menghantui, sementara beberapa pasukan melemah. Kami saling mengingatkan dan membantu satu sama lain. Menyiapkan sajian buka puasa dan santap sahur bersama. Ibarat rumah, kami seperti nyaman dan damai di rumah sendiri. Kepada orang-orang yang telah masuk dalam tim redaksi Identitas, tentunya akan merasakan hal sama seperti yang saya ceritakan. Di sana memberi iklim kesejukan tersendiri. Kita bukan mahasiswa yang hanya mencari hura-hura dan kesenangan semata. Tapi kami ditempa oleh keharusan untuk terus berpikir kritis dan kreatif mencari pemberitaan yang bermanfaat.  Dan buku, adalah kawan yang harus selalu ada untuk menambah referensi penulisan kami. Karena menulis dipengaruhi oleh apa yang kita baca. Semua hal positif benar-benar tersaji di sini.  
Surprise  Ulang Tahun ke 24 saya, di Sekretariat PK Identitas
Hingga lepas empat tahun keaktifan saya, komunikasi kami sesama keluarga kecil masih terbina baik. Ajang pernikahan, dies natalis, wisuda, atau sekedar hang out saja kerap menjadi momen untuk reuni dan bersua kembali bersama teman seperjuangan, senior, maupun kru yang masih aktif. Meski terkadang, tak hidup rasanya  jika tak bertandang ke rumah kecil ini, ketika berada di kampus. Sungguh kebersamaan yang indah. Harmoni keluarga kecil yang menjadi pondasi berkomunitas. Dan sampai kapanpun, kita tetaplah keluarga kecil meskipun telah beranak pinak tiap tahunnya. 


3 komentar:

Rini Uzegan mengatakan...

Waw, bisa aktif dalam suatu komunitas itu emang seru yah mbak ^_^

Shaela Mayasari mengatakan...

Iya..Seru dan menyenangkan

yaszero mengatakan...

komunitas yang menyenangkan... :)

Posting Komentar