RSS

Minggu, 17 November 2013

Cerita Tentang Motor Dinas



      Minggu adalah saat yang dinanti banyak orang. Para pekerja, siswa, mahasiswa, dan entah siapapun pasti menyenangi kala berakhir pekan. Saat yang tepat untuk meluruhkan segala penat setelah seminggu beraktifitas. Bercengkrama sepanjang hari bersama keluarga, teman, dan orang terdekat.  Mengakrabkan diri dengan hobby. Atau minimal, minggu adalah waktu untuk memanjakan(baca: perawatan) diri.
                Tapi yang terjadi pada sebagian orang tidaklah setenang itu itu. Kami contohnya, sebagai ujung tombak data statistik, kami kerap menggunakan segala waktu untuk mengumpulkan data primer dari responden rumah tangga, industri, kontraktor, dsb. Tuntutan pekerjaan yang harus tepat waktu. Memaksa kami untuk kreatif mencacah (baca: mendata) di lapangan, dan pintar-pintar mencari celah waktu yang tepat, untuk melunasi segala survey maupun sensus. Seperti yang terjadi minggu ini. Kami sudah dipastikan menggunakan waktu libur untuk bekerja. Hal ini karena banyak kegiatan ad-hoc yang menumpuk di bulan ini. Dan karena deadline pekerjaan yang semakin dekat, ditengah beban kerja yang bejibun. Tapi bukan sekelumit kisah itu yang hendak saya bagi, melainkan tiga peristiwa hari ini  yang  sedikit mengusik, sekaligus menentramkan hati.
                Sebagai petugas lapangan, kami diberi beberapa fasilitas oleh negara. Salah satunya ialah motor dinas. Ketika langit lagi-lagi cerahnya, terbayangkan minggu tenang ini adalah saat yang pas untuk menyelesaikan beberapa survei yang tertunggak, dikarenakan beberapa responden baru berada di rumah ketika hari minggu. Di tengah perjalanan, saya singgah di sebuah swalayan mini di batas kota untuk membeli sebotol air mineral dan beberapa cemilan, sebagai bekal masuk mencacah ke sebuah desa.  Maklum, kadang warung-warung kelontong jarang kita temui ketika berada di pedalaman rumah penduduk. Pun jika ada, kue atau minuman tersebut telah expired ataukah melempem. Di parkiran motor, saya seperti mendengar petir di siang bolong, tatkala seorang Ibu paruh baya yang berpakaian sangat elegan lengkap dengan high heel nya berkomentar sarkastik. Tatapannya menusuk tah hanya sampai di mata, tapi sampai di palung hati . “Motor dinas itu dipakai bekerja, bukan dipakai berhari libur.”
                Sungguh jika bukan karena beliau lebih tua dari saya, mungkin saya akan membalas sebaris ucapannya itu  dengan segudang pembelaan. Tapi saya lebih memilih tersenyum  dan berlalu. Karena menyanggah ucapannya pun percuma. Ransel punggung yang berisi belasan kuesioner tidak akan menjawab ocehan Ibu itu. Paling dipikirnya, bahwa tas ransel itu berisi pakaian yang hendak kubawa berlibur. Menjelaskan bahwa saya akan mengunjungi sebuah desa dengan jarak tempuh 18 km dari pusat Kota Maros, pun percuma. Hanya buang-buang waktu. Saya membeli minuman dan makanan secepatnya, dan segera pergi meluncur blusukan ke pedalaman kabupaten. Semangat yang tadi sempat meletut-letup kini goyah. Sebaris ucapan Ibu itu sungguh menohok. Justru sebaliknya, minggu damai ini saya menyerahkan raga ini untuk kepentingan dinas. Mengorbankan segala janji dengan sahabat. Batin saya merintih tak terima.
Tidak semua kebaikan yang kita gunakan harus digembar-gemborkan. Pun, tidak ada satu pasal pun yang memidanakan orang yang berplat merah di hari libur, bakal dijatuhi sanksi atau tindakan hukum. Ini hanyalah persoalan etika moral dan kode etik profesi yang memayungi. Seyogyanya, kita memiliki rasa malu jika memanfaatkan aset negara yang bukan untuk peruntukannya. Atau mendahulukan kepentingan pribadi dengannya. Sampai di sini, saya mencoba menjernihkan nalar saya. Ibu itu tidak sepenuhnya salah, karena tidak semua orang tahu akan ritme kerja kita. Saya pun paham betul, segala fasilitas negara itu berasal dari uang rakyat melalui APBD/APBN. Konsekuensinya adalah,  tanggungjawab adalah harga mati untuk menyelesaikan segala kewajiban terkait kinerja.
Motor berlaju, hingga mata saya tiba-tiba tersadar akan jarum merah penunjuk volume bahan bakar, berada sedikit di bawah garis merah. Beruntung 200 meter di depan, ada  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Lagi, telinga saya kembali dibuat berang oleh celoteh orang norak nan kepo. Saat hendak menunggu uang kembalian dari petugas SPBU. Seorang Bapak berkumis tebal dengan tubuh gempal, duduk di samping supir yang mobilnya nyaris menyentuh ekor motor saya. Dengan wajah gusar, dia tak sungkan langsung menghardik saya.” Kalau isi bensin motor bukan di sini Bu, tapi di sebelah,” tangannya sembari menunjuk antrian pengisian BBM subsidi premium. Dalam hati saya berujar, apakah Bapak ini tidak tahu membaca atau tidak sabaran menunggu untuk secepat mungkin diladeni. Padahal, saya hanya menunggu uang kembalian sisa pembayaran BBM pertamax saja. Dan sangat terpampang jelas, informasi mengenai kewajiban pemakaian bahan bakar pertamax untuk kendaraan dinas.
Saya tersenyum menimpali, dan mengarahkan jari telunjuk  pada secarik lembar informasi  yang tertempel. Saya bisa saja, membalas hardikan Bapak berkumis itu. Tapi rasa-rasanya enggan saja melakukannya. Ngeri melihat muka sinisnya. Pemerintah memang telah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM nomor 1 Tahun 2013 tentang pengendalian penggunaan bahan bakar minyak. Yang intinya larangan menggunakan BBM subsidi untuk segala kendaraan plat merah, BUMD, dan BUMN. Dimana perubahan harga bahan bakar yang tadinya hanya 4 500 per liter, kini beralih menjadi 11. 800 per liter. Meskipun seluruh SPBU di negeri ini, sudah dipastikan menolak mengisi bahan bakar premium bersubsidi untuk kendaraan plat merah. Kita bisa saja mengisinya di bensin eceran yang dijual umum di pinggiran jalan. Tapi ini persoalan moral pribadi dan etika profesi kita. Biarlah selisih dari lonjakan harga BBM itu kita tanggung sendiri, selama tidak merugikan rakyat kecil.
Dua peristiwa pagi ini seperti ucapan yang sepersekian detik mematikan semangat. Aghh, hari minggu ini harus berlanjut. Dengan target kerja yang harus terealisasi. Saya hampir lupa, bahwa masing-masing orang memiliki penilaian yang berbeda terhadap apa yang kasat mata dilihatnya, tapi tak diketahuinya.
Semua berjalan sesuai target dan ilusiku. Tidak salah mengorbankan hari libur ini. Semua pekerjaan selesai  sesuai target. Peduli amat dengan dua orang yang sok tahu pagi tadi. Toh, lebih penting merayakan keberhasilan hari ini. Perjalanan pulang, dicekik rasa haus, saya singgah di sebuah warung kecil nan sepi. Namun karena posisi tanah yang agak miring, dan cara standar motor saya yang tak sempurna. Motor seketika ambruk dan segala ole-ole berupa mangga dan kue dari responden, berserakan di mana-mana. Sungguh saya tak kuat mengangkat motor itu, dibantu oleh anak si penjaga warung pun tetap tak kuat. Dan untuk beberapa menit, tak seorang pun pengendara motor lewat untuk kumintai pertolongan.
Hingga seorang kakek yang kutaksir berumur 65 tahun, tengah mendorong sebuah gerobak kecil berisi segopok kayu bakar. Datang  mendekat dengan sisa-sisa tenaganya. Mengambil alih setir motor, dan mencoba perlahan  mengangkatnya hingga berdiri tegak. Dengan nafas tersengal, dia tersenyum dan menyarankanku untuk lebih hati-hati. Peristiwa yang sederhana, tetapi sungguh menyentuh mata batin ini. Terimakasih telah menolong. Dalam hati, saya mendoakan segala kebaikan untuk kakek itu. dan dua peristiwa pahit tadi seketika hilang oleh sebuah kebaikan kecil sore ini. J

2 komentar:

Anies mengatakan...

Kisah yang sangat inspiratif.

Shaela Mayasari mengatakan...

Sy masih butuh belajar banyak sm dirimu sobat.hahha

Posting Komentar