RSS

Senin, 10 Agustus 2015

Bersamamu, Sempurna Dienku



Aku terima untuk menikahinya, Shaela Mayasari binti Anshar Sandje dengan membayar mas kawin sebuah kalung emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai karena Allah.
Seuntai kalimat panjang, dengan sekali tarikan nafasmu itu memecah hening, menjawab kelegaan yang sekian lama terpendam.  Membungkam rasa takut  dan mawas yang belakangan minggu terus menghantui. Sorak keluarga, kerabat, & sahabat merangkul keharuan kita pagi itu. Wajah-wajah teduh itu turut pula menjemput syukur dan bahagia kita. Suamiku, Minggu, 26 Juli 2015, engkau telah bersedia ber-Mitsaqan Ghaliza (berjanji dan bersumpah) di hadapan Allah dengan disaksikan manusia dan malaikat- malaikatnya. Memuliakanku dengan mahar ikhlasmu. Menjawab ijab yang keluar dari suara serak & bibir gemetar Ayahandaku. Menggantikan perannya yang telah 27 tahun menanggung hidupku. Yang telah bertanggungjawab akan segala dosa dan amalan-amalanku. Hari itu, engkau meminta izin untuk menggantikan perannya itu. Menjadikanku sebagai amanahmu, hidup dan mati.

Merunut ke belakang, perjalanan hidup dari Sang Skenario Kehidupan ini benar-benar ajaib. Telah jauh kaki ini melangkah. Berkawan dengan banyak orang dan tempat. Menaruh sembunyi-sembunyi harap dan secuil asa, dari janji-janji manis yang datang menyapa.  Menenteng sabar dan ikhlas kemana-mana. Kenapa menentengnya? Karena dua hal inilah yang pada akhirnya saya jalani dan sangat saya yakini mampu menenangkan jiwa, mendamaikan hari. Sabar dan ikhlas adalah kunci sebaik-baiknya kunci kebaikan. Dan saya memilihnya, pilihan yang akhirnya bermuara menuju telaga cintamu. Hmm, ternyata jodohku engkau yang setiap harinya kujumpai di rumah keduaku. Kantor tempatku mencari peruntungan empat tahun terakhir. Setelah hati ini terombang-ambing, jauh, tak menentu arah, menggilas banyak waktu. Jawaban Allah ternyata begitu dekat, sangat dekat. Subhanallah.
Resepsi Pernikahan Kita
 Sebagai perempuan dewasa, melalui hari-hari  dengan menunggu kehadiran teman hidup, adalah sebuah misteri yang membutuhkan  kebesaran hati. Ada luka yang tertoreh di gelapnya malam, memaksa kita meringis menahan sakitnya. Nurani yang menangis memendam rindu, tawa dan lara yang ingin dibagi, serta potret masa depan yang begitu indah ingin  dirancang bersama sang nakhoda, menjadi bayang-bayang yang seolah tak mau pergi. Menjaga kehormatan diri tentu adalah prinsip. Membentengi diri dengan prinsip tersebut adalah pilihan tegas. Karena lingkungan, kawan, dan kumbang-kumbang yang mendekat tak bisa dijangkau isi hatinya. Percaya pada Allah. Jodoh adalah kehendak-Nya. Semuanya misteri yang hanya diketahui dan dirancang oleh-Nya saja, sang sutradara tunggal. Hanya sabar dan ikhlas sebagai penyempurna sujud- sujud malam  yang bisa mengetuk kehendak-Nya.
Sampai detik ini, saya masih tidak percaya Allah memberikan bingkisan kado  yang begitu indah. Maafkan jika saya menganalogikannya ‘nyaris sempurna’. Rupawan akhlaknya, rupawan pekertinya, rupawan tuturnya, dan utama memiliki kecintaan yang begitu besar kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Memikirkan sosok jenius, sederhana, tak banyak bicara, berjiwa penolong, dan  shaleh ini akan menjadi pendamping hidupku seperti sekarang, jelas tak terlintas pada mulanya.
Bagaimana bisa orang yang seaktif dan sereaktif saya, mampu beriringan bersama orang yang hanya berbicara jika hal tersebut sangatlah penting !Bagaimana bisa saya yang meletup-letup dan kelewat kritis ternyata dipuja oleh orang sesabar dan sebijaksana dirimu! Yang selalu berhusnudzon kepada semua orang, yang memiliki empati tingi dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibanding dirinya sendiri. Bagaimana bisa saya yang senang keramaian dan gemar bergaul, bakal hidup bersama dengan orang sedingin dan setenang dirimu! Bagaimana bisa saya yang sangat lemah matematika ini ternyata didamba oleh seorang ahli sains, gemar melahap  segala rumus algoritma matematika!
Bagaimana bisa saya yang begitu eksis diberagam media sosial, ternyata begitu diperhatikan oleh orang yang justru pasif di medsos? Yang menganggap medsos sebagai tempat silaturrahim dan sebagai  sumber informasi/ilmu saja. Bukan sarana untuk mengaktualisasi diri dengan beragam status alay, religius ataukah intelek. Medsos bagimu bukan wadah untuk pamer tempat liburan, pamer buku yang sedang dibaca, musik yang sedang didengar, pamer pergaulan, pamer makanan dan minuman yang hendak disantap, terlebih untuk pamer muka sok imut hasil  rekayasa teknologi. Kenarsisan yang tak lazim di matamu itu, sangat biasa saya lakukan. Jadi bagaimana bisa kita bersisian,  sementara dari semua sisi kita saling bertolak belakang? Bagaimana bisa pada akhirnya kita bersepakat menjalani hidup bersama, sementara kebiasaan-kebiasaan kita ini berseberangan?
Engkau yang begitu rapi dalam berpikir dan bertindak, tenang menghadapi tekanan, sementara saya yang mudah panik, penuh spontanitas dalam berpikir dan bertindak.  Logika saya pun kadang tak mampu menjangkau kebisaan ini. Hhmmm. Namun beragam cara diturunkan  Allah untuk merekat segala perbedaan kita. Maha Kun Fayakun ini menakdirkan kita berjodoh untuk saling melengkapi satu sama lain. Dengan segala macam jalannya. Kita menempuh jalan mulus, melewati aral,  menukik tajam, berbadai,  penuh lika-liku bebatuan tajam, sampai kaki kita berdarah-darah untuk saling memperjuangkan. Kita pernah di satu titik sepakat untuk saling menghalalkan, dan juga kita pernah nyaris di satu titik untuk saling mengikhlaskan saja. Badai di depan kita tidak selapis, tapi berlapis-lapis terpaannya sejak niat mulia itu terpatri di hati masing-masing. Beruntung, Allah menjadi pondasi kuat kita dalam segala hal. Hingga pada akhirnya kita lagi-lagi takjub dengan kebesarannya.
Waktu Senggangmu dengan Membaca Al-Quran
Dikatakan Rasulullah, jikalau secara fitrah, manusia akan selalu cenderung pada kebaikan. Tetapi, untuk selalu sejalan dengan fitrahnya, sangatlah sulit. Karena, ketika manusia hendak memilih kebaikan, akan selalu ada bisikan-bisikan yang menghalanginya, dan menganjurkan yang sebaliknya. Maka disinilah, dibutuhkan kekuatan iman yang besar. Apakah terus dengan niat baik itu, ataukah mengikuti kehendak syetan yang mengajak pada kesesatan.  Dan benar, bisikan-bisikan untuk berbelok arah itu ada. Disinilah engkau menunjukkan sisi kedewasaanmu, merangkul hatiku yang gampang luruh dan menyerah. Sering membisikkan untuk memperjuangkan bersama-sama niat mulia kita, menjadi pengikut Rasulullah seutuhnya. Saling memuliakan dalam jalinan tali pernikahan.  Engkau sering mengajakku untuk tak henti bertawakkal, tak putus doa, tafakur di jantung-jantung malam, membicarakan semua masalah ini kepada Allah saja. Karena bukankah di Al –Quran jelas ayat Allah, Fa' inna Ma'al 'Usri Yusra, 'Inna Ma'al 'Usri Yusra (sesungguhnya bersama dengan kesulitan, ada kemudahan. Bersama dengan kesulitan, ada kemudahan. Dan benar saja, jawaban atas doa-doa kita ada tepat di ujung usaha. Dimana kata menyerah dan putus asa telah membayang di depannya.
 Membicarakan awal perkenalan kita, tak ada yang istimewa. Namun kebersamaan saban harinya rupanya menjadi akar yang kuat tumbuhnya pohon cinta kita. Sebagai pekerja lapangan yang sering bersisian (baca: kerja tim), teriknya matahari  mengasah raga kita berdua tumbuh kokoh dan bermental petarung. Pengalaman mewancarai ribuan responden tak bisa mengubah  karakter aslimu yang tenang. Itu tak menjadi masalah, karena disanalah kharisma itu terpancar. Sebaliknya saya menyadari malah pekerjaan ini membentuk saya semakin cerewet dan lebih mendalami banyak karakter orang.Hahaha..Lagi-lagi kita berbeda.
 Sawah, pedesaan, jalan terjal berliku di balik pegunungan, beningnya sungai, kendaraan dinas, alat-alat ubinan, ruang-ruang kantor dan berpuluh-puluh dokumen menjadi saksi tumbuhnya benih-benih cinta kita. Teman kita setiap harinya. Atau lebih tepatnya pemersatu kita. Dan tidak cukup berkotak-kotak kata, menjabarkan bahagia yang dirasakan hati ini ketika seorang yang begitu shaleh, sederhana, & dermawan datang seorang diri sebelum membawa sanak keluarganya. Setulus hatinya meminta langsung kepada Wali ku yang merupakan Wali Allah,  untuk meminangku menjadi bidadarinya selama-lamanya. Tentu persoalan pelik tidak akan lari bersama genggaman bahagia. Tapi selama kita berfikir positif dan menganggap segalanya akan mudah ketika kita melibatkan Allah. Maka raut-raut kebahagiaan itu akan merajai dan memenangi masalah yang konon pelik itu. Haha. Lagi-lagi saya merekahkan senyum ketika tutur sejukmu itu keluar.  
Dua minggu pernikahan kita, saya dibikin berbunga-bunga tiap saatnya sayang. Caramu menghargaiku, menghargai kedua orangtuaku yang kini jadi orangtuamu juga. Caramu mengingatkanku shalat tepat waktu ketika engkau berjamaah di masjid. Caramu memperbaiki tajwid bacaan Qur’an ku. Caramu mengajarkanku lafalan-lafalan doa terbaik di waktu-waktu mustajab. Membetulkan dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah yang masih belepotan aku lafalkan. Agar senantiasa kita mendapat ampunan, ridho, dan perlindungan-Nya. Caramu berbisik untuk memperbaiki posisi dudukku ketika kita mengunjungi makam leluhur kita, seperti yang dicontohkan Nabi.  Caramu menyemangatiku untuk terus mengasah otakku, membaca, menulis,   mengejar ketertinggalan kuliahku karena cuti panjang pernikahan kita.
 Pernikahan memang menghadirkan indahnya Jannah (Syurga) dalam tiap detik yang berlalu dalam keluarga kecil kita. Bagiku, ini adalah  sebuah tarbiyah panjang. Murabbi (pendidik) yang sebenarnya adalah Allah. Pernikahan memestikan kita untuk terus  berbenah, berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan, meski juga tidak ringan. Engkau sebagai imamku, adalah orang kepercayaanku saat ini. Apapun yang engkau lakukan, akulah orang pertama pengikutnya. Tetapi saya pikir kita sepakat, manusia tempatnya khilaf dan dosa.  Maka saya pulalah, orang pertama yang akan meluruskan  kakimu  ketika salah melangkah. Memberikan sudut pandang lain  ketika cara melihatmu hanya satu sisi saja.
Dan tentang Bilal, nama bayi lelaki mungil khayalan kita. Nama anak lelaki yang sangat aku sukai, dan kau pun menyukainya.  Lelaki bersuara merdu, menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan adzan dalam sejarah Islam, setelah melewati siksaan perih dari kaum Quraisy. Pengumandang suara langit ini,  menjadi Muadzin tetap pada masa Rasulullah SAW dan menjadi kesayangan Rasul. Semoga sosok Bilal junior itu bisa dihadirkan di keluarga kecil kita. Yang akan menyerukan tauhid Allah. Memanggil  merdu orang-orang untuk senantiasa mendirikan shalat.
 Doa ini mengalir bersama nadiku setelah resmi menjadi seorang istri. Tapi ketika Allah belumlah mengiizinkan, engkau lah suamiku tempatku bersandar menahan rindu. Karena sejak pertamakali kuketahui niat baikmu ingin memperistriku, sejak itu saya telah begitu yakin. Engkaulah orang pilihan Allah yang sengaja dikirim untuk menutup sedihku, menghibur laraku, menyempurnakan kekuranganku, dan melengkapi bahagiaku. Terimakasih telah memilihku diantara sekian banyak Hawa yang kau jumpai di bumi Allah ini. Terimakasih telah menambatkan kepercayaan untukku, sebagai ibu dari anak-anakmu kelak,  dan rumah tempatmu berlindung. Bersamamu, sempurna Dien ku. Aamiin.

7 komentar:

NUR AQZA mengatakan...

Aamiin,,,,,, bahagia selalu cika'.... #mewekka' ayaaaahhhh. hahahhaaa

asmaul husna mengatakan...

Subhanallah kak, semoga samawa hingga akhir hayat.

Rahmawati Aulia mengatakan...

Masya Allah!!! Inilah jawaban atas Setiap sujud di sepertiga malammu kak. Sampai nangis bacanya.;( (Tagis bahagia) Selamat berbahagiaaa..kakakqu sygg..™™:* :*

Rahmawati Aulia mengatakan...

Jika kesempurnaan adlh milik Allah, dg bersamanya Allah memberi hidup yg nyaris sempurna untukmu kak!!({}) <3<3

Febi Adriana mengatakan...

Alhamdulillah bagus... Semoga allah senantiasa memberikan yang terbaik dan mengabulkan mimpi2 kecilmu say.. Amiinnn ya rabb

Shaela Mayasari mengatakan...

Mksihh cika, rahma,Husna,ebi..tlah meluangkan waktu baca kisahku..pnjgx itu..hehe..aamiin untk doa2x

Dian Kurniawan mengatakan...

Moga samawa cla... Luangkan waktumu kita jumpa2 yehhh... Miss u baby

Posting Komentar