RSS

Senin, 04 Maret 2013

'Life of Pi', dan Kemahabesaran Tuhan


“Aku mulai menunggu. Pikiranku berkecamuk liar. Aku antara sibuk memikirkan hal-hal praktis yang mesti kulakukan untuk bertahan hidup, dan tersiksa oleh rasa sakit. Aku menangis tanpa suara.”
Demikian salah satu paragraf  dalam novel ‘Life Of Pi’. Kisah nyata yang dibukukan oleh penulis dunia, Yann Martel. Membaca tuntas buku ini, saya seperti ikut merasakan ketegangan  dan ketakjuban yang luar biasa. Siang malam dibisiki oleh nyanyian-nyanyian kematian. Akankah kita bisa bertahan sekuat-kuatnya atau lebih memilih mati sebagai jalan keluar?
Adalah Piscine Molitor Patel, yang kemudian disingkat Pi Patel. Seorang pemuda berumur 16 tahun, korban kapal karam. Dikisahkan Pi Patel berasal dari Kota Pondicherry, India, dan dibesarkan dari keluarga penyuka binatang. Ayahnya adalah seorang zookeeper, dan pemilik kebun binatang terbesar di Pondicherry. Hari-hari Pi Patel berkawan dengan kelucuan dan kegarangan binatang. Mulai dari kura-kura yang membentuk piramida, jerapah yang anggun dan pendiam, unta yang bermuka mesum,  hingga harimau bengis pemakan kambing.
Namun karena  kediktatoran politik baru yang buruk di negaranya, sehingga ayahnya mengalami ketakutan akan ancaman kehidupan kebun binatangnya. Hingga keluarga ini memutuskan hijrah ke Kanada. Segala dokumen perizinan dengan birokrasi Pondicherry dinegosiasi. Beberapa binatang dan reptilnya akhirnya dijual. Sementara sebagian besar binatang, beserta kandang-kandang  berikut ton-ton makanannya turut dilayarkan ke negeri Pohon Maple.
Mungkin mimpi paling jahat bagi Pi Patel, tanggal 21 Juni 1977 ketika kapal kargo berbendera Jepang (Tsimtsum), miring hingga tenggelam karena amukan badai dahsyat di perairan Pasifik. Badai ini berhasil meluluhlantakkan seluruh isi kapal. Keluarga Pi hilang seketika. Awalnya, Pi  Patel berusaha menjelaskan suara ledakan dan kekacauan pada Anak Buah Kapal (ABK). Namun ABK dengan niat bulus yang tersembunyi, lalu melemparkan Pi ke satu-satunya sekoci yang berhasil diturunkan. Di sekoci dengan panjang delapan meter itu, Pi baru menyadari, di sana juga ada seekor zebra yang patah kakinya, orangutan, hyena, dan harimau Royal Bengal.
            Badai reda dan Pi merenungkan situasi yang sulit. Si hyena menggigit kaki zebra hingga putus, lantas merobek isi perutnya. Berikutnya mengoyak-ngoyak tubuh orangutan yang bermata sendu. Dua binatang ini disantapnya dengan rakus.  Pada saat itulah, Pi Patel baru menyadari jauh di bawah kakinya, menyembul kepala  Richard Parker, harimau Royal Bengal dengan berat 225 kg. Pi Patel nyaris pingsan menghadapi fakta ini. Ia terombang-ambing di tengah Samudera Pasifik ini, bersama dengan seekor harimau superior.
            Jika si Hyena dengan berat 70 kg saja dengan mudahnya mencabik-cabik badan zebra dan orang utan.  Meskipun selanjutnya, giliran dia mendapat perlakuan yang sama dari Richard Parker, dimakan mentah-mentah. Bagaimana dengan harimau seberat 225 kg ini! Ketakutan itu menggerayangi pikiran Pi Patel. Ancaman kematian itu menari-nari di pelupuk matanya. Berdua di tempat  selebar 2, 5 m, tinggi 1 m, dan panjang 8 m bersama binatang bengis ini. Dan tanpa makanan lezat yang biasa disantapnya di Pondicherry. Bisa anda bayangkan apa yang terlintas di kepala remaja tanggung ini.
            Namun rupanya, harimau superior ini tidak menunjukkan geliat yang ditakuti Pi Patel. Sungguh ajaib, meskipun sepertiga dari bagian sekoci di kuasai oleh tubuh lorengnya. Dia tetap bertahan pada teritorinya di dasar sekoci. Namun, Pi Patel tak merasa di atas angin, dia tetap saja resah dan waspada. Sekali cakaran Richard Parker ke wajahnya, bisa jadi neraka penyiksaan baginya. Apalagi sang harimau tidak sedang di kebun binatang, yang berkilo-kilo daging makanannya disiapkan secara teratur. Dia bersama seorang manusia, yang bukan tidak mungkin bisa menjadi  daging santapannya ketika lapar.
Namun Pi sedikit beruntung, sekoci ini rupanya disiapkan komplit dengan loker yang  berisi makanan, berliter-liter air mineral, alat suling tenaga  matahari untuk mengolah air tawar, obat-obatan, dayung, pelampung, cokelat, selimut, stok biskuit yang menggunung, alat pancing, dan peralatan kapal lainnya. Kabar baik ini seperti anggur kehidupan di tengah hantaman kepedihan yang begitu memilukan. Meskipun untuk menemukan loker ini, Pi harus mengucurkan banyak keringat mencari celah di antara badan sang harimau.
Ternyata, mendengar Richard Parker menggeram tiap saat, melihat tatapan tajamnya, serta hentakan kakinya yang terasa gempa di dasar tanah, memaksa Pi Patel untuk membuat rakit dari beberapa pakaian pelampung, dayung, dan tambang. Hingga dia bisa sedikit menjauh dari sekoci berisi hewan dari filum Chordata ini. Namun, badai kemudian datang dan langsung memporak-porandakan pertahanan kecilnya di samping sekoci. Jadilah Pi Patel dipaksakan kembali berkawan dengan Richard Packer di atas sekoci, melawan ganasnya gelombang samudera terbesar di dunia ini.
Kehidupan terus berlanjut , Pi Patel terombang-ambing bersama  Richard Packer. Tuhan benar-benar membuktikan kemahabesarannya. Siang hari laut terbuka terasa terang, panasnya matahari telah meluruhkan pakaian Pi. Dan malam hari, ancaman kematian dalam kegelapan kembali menghantui. Jam demi jam berlalu lamban, unsur-unsur kengerian itu silih berganti menghantui Pi Patel. Akankah dirinya  mati dimakan harimau ?tenggelam di ganasnya laut? atau mati kelaparan? Namun, Pi Patel berusaha melawan bayang kematian itu. Dia percaya, semua adalah otoritas Tuhan. Dan mengenai ambisinya untuk mengenal Tuhan dengan memeluk tiga agama sekaligus .Islam, Kristen, dan Hindu tetap dilakoninya di atas sekoci. Ia menjalankan shalat tanpa tahu kiblat,  Misa seorang diri, Puja di hadapan penyu.  Karena dengan ini, dia bisa tenang kembali, tanpa amarah, dan menganggap laut ini adalah lahan luas milik Tuhan.  Pi memang  tidak pernah mengeluh atau mencari letak keadilan pada Tuhan. Baginya, bertahan bersama Richar Packer adalah harga mati. Meskipun, di bagian novel ini juga dikisahkan Pi yang nyaris mati dan sudah menyerah. Tapi justru kehadiran Richard Packer membangun semangat tersendiri buatnya.
Kebiasaan Pi sebagai vegetarian, memaksanya berubah haluan menjadi seorang karnivora di atas laut, untuk memperjuangkan nafas. Memakan mentah segala jenis biota laut.  Hanya itu pilihan terakhirnya tatkala remah-remah biskuit dan  persediaan makanan lainnya lenyap termakan badai. Dia bersaing dengan hiu-hiu dan paus untuk mendapatkan ikan terbang (dorado), penyu, kepiting, ganggang, keong hijau, dan makhluk laut lainnya. Dan dengan ini, dia jadi sumber kehidupan Richard Packer karena tangkapan ikan-ikannya. Inilah salah satu jurus pamungkas Pi Patel, mempertegas dominasinya dengan menyediakan makanan untuk harimau raksasa ini.
Kepiluan  Pi tak berhenti, saat sekoci terdampar di  sebuah pulau aneh. Pohon yang tumbuh langsung dari vegetasi, tanpa tanah apapun. Pi dan Richard Parker tinggal di sini selama beberapa waktu, tidur di sekoci mereka dan menjelajahi kepulauan di siang hari. Semula, Pi merasa kehidupan baru telah menjemputnya di pulau ini. Namun Pi menemukan sebuah koloni besar meerkat-meerkat yang tidur di pohon-pohon dan kolam air tawar. Suatu hari, Pi menemukan gigi manusia dalam buah pohon . Dan akhirnya sampai dikesimpulan bahwa pulau itu adalah pulau karnivora. Dia dan Richard Parker kembali melaut, menjauh mengarungi samudera dengan luas sekitar 165 juta km .Hingga  akhirnya atas kuasa Tuhan, ia mengakhiri perjalanan bersama sang harimau sekitar tujuh bulanan itu  di pantai Meksiko, tanggal 14 Februari 1978
Terlepas dari ateis maupun agnostik Pi dalam kisah ini. Setidaknya kisah sejarah ini mengandung pesan alam bagi kita semua. Sesuatu yang sangat sulit dicerna oleh nalar maupun logika. Dan sangat lebih mustahil lagi, jika kita melihat dari perspektif ilmiah. Dengan pertimbangan kesehatan, fisik, metabolisme tubuh, serta mental yang seharusnya Pi makin hari  makin melemah. Namun, justru kehadiran harimau raksasa dalam petulangan tujuh bulannya di samudera dengan kedalaman rata-rata 4.250 m ini, membangun semangatnya untuk bertahan. Akan berbeda mungkin, jika hantaman itu dilaluinya seorang diri. Mati, bisa jadi jalan terbaik, dibanding sebatang kara di perairan Pasifik. Tuhan membuktikan kemahabesarannya, dengan memberi kehidupan baru bagi sang petarung. Maka, kepada siapa kita akan berterimakasih jika berada di posisi Pi Patel?

1 komentar:

NABILA SHOP mengatakan...

TOKO HANDPHONE TERBESAR TERLENGKAP TERMURAH TERPERCAYA NABILA SHOP Produk dijamin asli orginal.Dapatkan harga promo Nabila Shop Barang yang Kami Tawarkan Semuanya Barang ASLI ORGINAL Ada Garansi Resmi Distributor dan Garansi TAM 2 bebas resiko bebas penipuan.
Semua Produk Kami Baru dan Msh Tersegel dLm BOX_nya.
BERMINAT HUB-SMS 085-757-299-675 ATAU KLIK WEBSET RESMI KAMI http://nabilashop77.blogspot.com
Ready Stock! Samsung Galaxy S4 Mini Rp.2,500.000
Ready Stock! Apple iPhone 5 Rp.2,700.000
Ready Stock! BlackBerry 9380 Orlando - Black.Rp.900.000,-
Ready Stock! BlackBerry Curve 8520 Gemini.Rp.500.000,-
Ready Stock! BlackBerry Bold 9780 Onyx 2.Rp.800.000,-
Ready Stock! Blackberry Curve 9320.Rp.700.000,-
Ready Stock! Samsung Galaxy Note 10.1.Rp.2,500.000.
Ready Stock! Samsung Galaxy Tab 2 (7.0).Rp. 1.000.000

Posting Komentar