(Tulisan ini dikirim ke Redaksi Varia Statistik, 11 Januari 2017)
Sebagai insan BPS, hati siapa yang tidak terkoyak
melihat tayangan salah satu televisi
nasional baru-baru ini bertajuk
“ Utak-Atik Data Statistik”. Sejak awal, narasi yang dibacakan sangat
tendensius dan menyudutkan BPS. Data BPS diduga rentan rekayasa, sarat dengan
kepentingan pihak tertentu. Yang lebih
menggeramkan, kita dituding merekayasa data untuk
menambah pundi-pundi segelintir oknum penguasa.
Tayangan ini sontak melahirkan rasa kesal, dada
bergemuruh, dan mulut yang seakan ingin mengklarifikasi semua tuduhan negatif tersebut. Bermula dari temuan Ombudsman Republik
Indonesia Indonesia, yang mengkritisi data produksi beras nasional yang semakin naik dari tahun ke tahun. Sementara
dari sisi kesejahteraan, kehidupan petani kita begitu-begitu saja. Surplus
beras yang dielu-elukan Menteri Pertanian, juga kontrakdiksi dengan apa yang
terjadi di masyarakat. Di mana harga beras di pasar jauh lebih mahal dibanding
harga di tingkat penggilingan padi. Ombudsman juga menilai ada yang ganjil,
melihat data produksi beras yang terus meroket, tetapi di sisi lain lahan sawah justru semakin tergerus.

