RSS

Minggu, 18 Februari 2018

Tasmillah Menginspirasi


"Latar belakangnya karena saya merasa jenuh dengan kerjaan yang sama terus menerus. Ibaratnya mengulang kerjaan setiap tahun."

Sepenggal jawaban Tasmillah, narasumber dalam seminar WAG 'Perempuan BPS Menulis, ketika ditanyai motifnya sebagai penulis opini BPS. Meskipun penuh rendah hati, ia lebih enjoy merasa berbagi pengalaman, dibanding dikatai pemateri dari 170-an peserta.


Siapa Tasmillah? Awalnya saya tidak  mengenal nama ini, begitupun ketika diberitahu teman kantor perihal sepak terjang nama ini membunyikan data BPS, saya tidak kenal.

 Saya mulai tertarik, ketika tulisannya  perihal interpretasi data kemiskinan dimuat di Harian Kompas, Januari 2018 lalu, tulisan tersebut sekaligus menanggapi tulisan Prof Bagong Suyanto , Dosen Universitas Airlangga yang juga dimuat di Harian Kompas beberapa hari sebelum Tasmilah mematahkan argumentasi guru besar tersebut.

Saya tertarik. Selalu kagum  ketika ada kaum Hawa yang berani tampil di depan, menjelaskan kebenaran apa yang diketahuinya. Dengan cara santun, intelek, bermartabat, elegan, namun menohok. Inilah teladan penulis sesungguhnya. Ketika tulisan orang yang salah interpretasi terhadap instansi kita, diluruskan dengan tulisan pula. Lengkap dengan batasan konsep definisi, data faktual, dan metodologi yang dipakai.

Tulisan terpajang di Koran Kompas, menurut saya sebuah prestisius. Bukan hanya bermodal nama besar saja ( bupati, gubernur, menteri, politikus, dosen, peneliti,dll) untuk naik cetak di media papan atas ini. Tapi tulisan harus berkualitas, faktual, kaya data, sistemik, orisinil, bergizi, dan menggoda. Puluhan bahkan ratusan tulisan harus bersaing setiap hari untuk mengisi halaman 6 atau 7 koran dengan sirkulasi oplah 500 ribu-an eksemplar tiap harinya. Dan Tasmillah berhasil menggaet hati redaktur kolom opini koran elit tersebut melalui tulisan sanggahannya, hingga turut cetak.

Keberaniannya patut saya acungi jempol. Tasmilah bukanlah pejabat teras BPS. Ia hanya staf fungsional biasa, namun  bernyali menghadapi mahaguru di depannya. Kekaguman saya makin meluas kala mengetahui fakta, sudah 69 tulisan opini Tasmillah yang naik cetak di 14 koran lokal dan nasional selama dua tahun terakhir di republik ini.

Tasmillah mafhum. Ada kejenuhan yang dirasa dalam rutinitas kerja yang berulang. Dan ini harus diubah. Ia pun berinisiatif menulis, mengingat BPS tempatnya mengabdi adalah gudang data. Tapi ia sadar, tulisan yang berkualitas, butuh amunisi bacaan yang berbobot. Hukum alamnya begitu.Itu dulu prinsip yang dipegang. Ia pun nyaris setiap hari membaca Koran Kompas dan media mainstream lainnya. Menelaah headline dan opini orang-orang besar. Mempelajari selera redaksi dan issue terhangat yang mengemuka. Mem-follow akun resmi media kredibel dan penulis-penulis besar. Sambil ngelonin anak pun, Tasmillah sempatkan membaca berita-berita tersebut. Hal itu (read:membaca) lebih sering dilakukannya dibanding larut dalam keasyikan ber-medsos. Wahh tertampar saya. Wkwkwk

Pengalaman bertahun-tahun di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua memberinya pelajaran berharga, dua seksi sempat dipegangnya di sana. Yakni Seksi Distribusi, dan Seksi Neraca dan Analisis Wilayah.  Menganalisis potret wilayah Mimika sebagai Kota Tambang dan membuat sederet publikasi  tentu mengasah jiwa statistisinya. Saat ini, perempuan kelahiran 1983 ini merupakan staf fungsional di Kota Serang, Banten. Keikutsertaannya dalam kegiatan teknis segala bidang, memperluas cakrawala berpikirnya. Ia pernah menjadi instruktur daerah Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, Sensus Ekonomi, petugas HD, hingga menjadi petugas Susenas.

Pengalaman lapangan tersebut   menguntungkannya dalam menulis. Teori tanpa praktik tentu hambar. Dan Tasmillah sadar,  data BPS dilahirkan dari proses panjang. Sehingga ia bisa mudah mencari data BPS yang relevan dengan momentum saat ini.

Fakta lain, sebagai penulis puluhan artikel, Tasmillah ialah ibu dari lima bocah. Barangkali, kita harus banyak berkiblat dari manajemen waktu yang dipakai Tasmillah. Mengurus lima anak kecil dengan predikat working mom, bukan pekerjaan gampang. Pertanyaannya. Kapan waktu menulisnya? Sementara, kita sadar bahwa menulis ialah pekerjaan hati dan otak. Keduanya harus dalam kondisi tenang untuk menggerakkan pena dan mood.

 Di seminar kemarin, Tasmillah berujar memanfaatkan waktu menulis saat weekend atau saat anak-anaknya tertidur. Kadang juga, saat ia tengah asyik menulis serius, ia melupakan memasak dulu, hal ini mendapat dukungan dari suaminya. Yah, di balik orang sukses tentu ada orang hebat dan supporter sejati yang selalu ada. Sama juga tiap kali tulisannya hendak dikirim ke media, ia memperlihatkan dulu kepada suaminya, padahal background pendidikan mereka berbeda.

Tasmillah berhasil mengubah dirinya yang dulu biasa-biasa saja menjadi sosok luar biasa. Bahkan seorang kakak kelasnya bertanya, mengapa Tasmillah yang dulu biasa saja kini begitu percaya diri, menjadi luar biasa dengan puluhan tulisannya di 14 koran. Dijawabnya bahwa sifat ndesonya terkikis saat di bangku kuliah. Ditambah keinginannya untuk terus belajar dan tak puas diri.

Membaca dan menulis kini berbuah hasil. Mengorbankan jam tidur, mengeluarkan tenaga ekstra sembari merawat lima krucils bukanlah penghalang untuk maju. Selama keinginan belajar masih terus terpelihara. Mengutip pesan ulama besar Buya Hamkah, kalau untuk sekedar hidup, babi juga hidup. Kalau untuk sekedar bekerja, kera pun juga bekerja. Terimakasih pelajarannya Mbak Tasmillah✋😘💃😎
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikBahagia
#15HariBercerita
#harike-9


1 komentar:

Tasmilah mengatakan...

Terimakasih mbak Shaela. Tulisan mbak Shaela enak banget dibaca. sama-sama belajar ya mbak, dan saling menyemangati.

Posting Komentar